Selasa, 17 Juni 2014

Kelompok Belajar Kooperatif Versus Kelompok Belajar Tradisional


Menurut Melissa Kelly dalam tulisannya “Cooperative Learning versus Traditional Learning for Group Activities”, ada beberapa perbedaan antara pembelajaran Kooperatif dengan kegiatan kelompok belajar tradisional.

Faktor
Kelompok Belajar Tradisional
Kelompok Pembelajaran Kooperatif
Ketergantungan
Diantara peserta didik tidak ada saling ketergantungan. Tidak ada perasaan atau interaksi positif dimana mereka saling membutuhkan untuk bekerja sama menyelesaikan tugas.
Peserta didik termotivasi untuk bekerja sebagai satu tim/kelompok untuk mencapai kesuksesan bersama.
Akuntabilitas/
Pertanggungjawaban

Dalam kelompok belajar tradisional tidak ada pertanggungjawaban individu. Hal inilah yang sering membuat kegagalan dan kekecewa an bagi peserta didik yang bekerja paling banyak. Penilaian untuk semua peserta didik di dalam kelompok adalah sama, hal ini dapat menyebabkan peserta didik yang kurang termotivasi menyerahkan semua penyelesaian tugas kepada peserta didik yang lebih termotivasi.
Di dalam kelompok belajar kooperatif, seluruh peserta didik harus mempertanggungjawabkan perannya masing – masing dalam bentuk rubrik, ada observasi guru dan ada evaluasi dari teman sejawat.
Kepemimpinan
Biasanya, dalam kelompok belajar tradisional ditunjuk satu peserta didik sebagai pemimpin kelompok.
Dalam kelompok belajar kooperatif, seluruh peserta didik berbagai peran kepemimpinan sehingga mereka  merasa memiliki dan bahu membahu menyelesaikan tugas.
Tanggung jawab
Karena semua kelompok belajar tradisional diperlakukan secara sama, maka peserta didik biasanya menyelesaikan tugas dan bertanggungjawab hanya untuk kelompoknya masing – masing. Tidak ada rasa ingin berbagi tanggung jawab.
Dalam kelompok belajar kooperatif, peserta didik diharapkan berbagi tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas
Keterampilan sosial
Dalam kelompok belajar tradisional, keterampilan sosial biasanya diabaikan. Tidak ada dinamika kelompok dan kerja tim.
Pembelajaran kooperatif adalah tentang kerja tim. Hal ini sering ditekankan dan di akhir pembelajaran akan di nilai.
Keterlibatan guru
Guru akan memberikan tugas seperti membagi kertas kerja (LKS) dan memberikan waktu kepada peserta didik untuk menyelesaikan tugas. Guru tidak mengamati atau campur tangan di dalam kelompok.
Karena pembelajaran kooperatif adalah kerja tim dan dinamika kelompok maka guru memberikan tugas dengan rubrik penilaian untuk masing – masing peserta didik, guru secara langsung terlibat dalam mengamati dan campur tangan untuk memastikan kerja tim yang efektif dalam kelompok belajar.
Evaluasi Kelompok
Dalam kelompok belajar tradisional, peserta didik tidak memiliki alasan untuk menilai seberapa baik mereka bekerja sebagai satu tim/kelompok. Kadang kala salah satu peserta didik merasa bahwa merekalah yang telah melakukan seluruh tugas yang diberikan.
Peserta didik diharapkan dapat menilai efektifvitas mereka dalam kelompok. Guru akan menyerahkan penilaian kepada peserta didik yaitu dengan  menjawab pertanyaan atau menilai tiap-tiap anggota tim/kelompok termasuk diri mereka sendiri dan mendiskusikan permasalahan yang muncul dalam kerja tim.

Menurut Melissa, kegiatan kelompok belajar kooperatif memang membutuhkan waktu dan penilaian yang lebih lama tetapi lebih efektif dalam membantu peserta didik belajar sebagai bagian dari sebuah tim/kelompok.
Banyak acara TV yang memberikan contoh kelompok belajar/ kerja kooperatif. Salah satunya adalah “MASTER CHEF”. Walaupun mereka bersaing satu sama lain, tetapi ketika mereka dituntut untuk bekerja sama dalam satu tim, maka mereka harus mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki untuk menyelesaikan tugas kelompok jika mereka tidak ingin tereliminasi. Walaupun pada dasarnya, para juri telah memberikan penilaian kepada masing – masing peserta berdasarkan hasil observasi dan hasil akhir kinerja mereka, namun pada saat penentuan siapa yang akan tereliminasi, masing – masing peserta dalam kelompok tersebut diberikan kesempatan untuk menilai kinerja dan perannya  serta  teman- temannya dan memperkirakan siapa yang harus tereliminasi.

Seperti  yang diketahui model pembelajaran kooperatif memiliki keuntungan, diantaranya adalah guru dapat menggunakan berbagai variasi model pembelajaan kooperatif sesuai dengan karakteristik konsep materi yang akan disampaikan kepada peserta didik sehingga peserta didik tidak akan mudah bosan karena model pembelajaran yang bervariasi. Melalui pembelajaran kooperatif diharapkan peserta didik memiliki semangat untuk bekerja sama dalam mencapai keberhasilan. Dalam pembelajaran kooperatif guru tidak hanya dapat meningkatkan hasil belajar akademik tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial peserta didik, menyiapkan peserta didik untuk menyadari dan menerima adanya perbedaan individu di dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan tuntunan kurikulum 2013 yaitu meningkatkan kompetensi peserta didik yaitu kompetensi agama, sosial , akademik dan keterampilan.  Jadi menurut saya model pembelajaran kooperatif sangat baik digunakan dalam proses belajar mengajar  untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Di dalam kurikulum 2013 ada pergeseran paradigma belajar yaitu model pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab), melatih berfikir analitis (pengambilan keputusan), menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.  Kurikulum ini hadir untuk menjawab tantangan eksternal diantaranya adalah mencapai kompetensi masa depan seperti mampu berkomunikasi, mampu berpikir jernih dan kritis, mampu mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, mampu menjadi pribadi yang bertanggungjawab, mampu mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, mampu hidup dalam masyarakat yang mengglobal. Para pendidik diharapkan  mampu menekankan kemampuan berbahasa siswa sebagai alat komunikasi, pembawa pengetahuan  dan berfikir logis, sistematis dan kreatif, mengukur proses kerja siswa bukan hanya hasil kerja siswa.  Salah satu model pembelajaran yang mendukung kurikulum 2013 adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif membantu peserta didik untuk aktif terlibat dalam mencapai tujuan dari pembelajaran, mengatasi permasalahan yang muncul di antara teman dan meningkatkan kemampuan bekerja sama dengan orang lain yang memiliki karakteristik berbeda - beda.  Dalam pembelajaran kooperatif guru diharapkan memberikan sejumlah bantuan kepada peserta didik pada tahap awal pembelajaran baik itu berupa penjelasan konsep materi ajar, prosedur pelaksanaan kegiatan, kriteria – kriteria keberhasilan atau karakter yang harus dikembangkan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Selanjutnya, guru memberikan kesempatan sebesar – besarnya kepada peserta didik untuk mencoba berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran dan mengerjakan sendiri tugas – tugas yang diberikan. Ini berarti, guru tidak perlu memberikan ceramah yang panjang dan membuat peserta didik kebosanan mendengarnya. Melalui pembelajaran kooperatif peserta didik dilatih untuk mencari dan bertukar informasi/pengetahuan dan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah atau tugas yang diberikan.

Tidak ada komentar:

Comment Box is loading comments...